Kamis, 27 Mei 2010

GEOMORFOLOGI KARST

A. PENGERTIAN GEOMORFOLOGI KARST
Geomorfologi karst adalah semua proses geomorfologi yang terjadi akibat proses pelarutan batuan yang terjadi pada daerah berbatuan karbonat tertentu. Karst merupakan istilah dalam bahasa jerman yang diturunkan dari bahasa Slovenia (kras) yang berarti lahan gersang berbatu. Istilah ini sebenarnya didaerah asalnya tidak berkaitan dengan batu gamping dan proses pelarutan. Namun saat ini istilah karst telah diadopsi untuk istilah bentuklahan hasil proses pelarutan. Ford dan Williams (1989) mendefinisikan karst sebagai medan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik.
Karst dicirikan oleh :
1. terdapatnya cekungan tertutup dan atau lembah kering dalam berbagai ukuran dan bentuk
2. langkanya atau tidak terdapatnya drainase/sungai permukaan. Dan
3. terdapatnya goa dari system drainase baah tanah
Karst tidak hanya terjadi di daerah berbatuan karbonat, tetapi juga di batuan lain yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder (kekar dan sesar intensif) seperti gypsum dan batu garam. Namun demikian, karena batuan karbont mempunyai sebaan paling luas, karst yan banyak dijumpai adalah karst yang berkembang di batuan karbonat.

B. KARSTIFIKASI DAN SYARAT TERBENTUKNYA KARST
Karstifikasi adalah proses kerja air terutama secara kimiawi, meskipun secara mekanik pula yang menghasilkan kenampakan-kenampakan topografi karst (Ritter, 1979). Karstifikasi atau proses pembentukan bentuklahan karst didominasi oleh proses pelarutan. Proses pelarutan batugamping diawali oleh larutnya CO2 didalam air membentuk H2CO3. Larutan H2CO3 tidak stabil terurai menjadi H− dan HCO3 . Ion H− inilah yang selanjutnya menguraikan CaCO3 menjadi Ca2+ dan HCO32-. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mendorong terbentuknya karst.
 Faktor karstifikasi (syarat terbentuknya karst)
a. faktor pengontrol (menentukan banyak tidaknya proses karstifikasi berlangsung)
- Batuan mudah larut, kompak, tebaldan mempunyai banyak rekahan
- Curah hujan yang cukup (˃250 mm/tahun)
- Batugamping dengan kemurnian tinggi (batuan terekspos diketinggian yang memungkinkan perkembangan sirkulasi air/drainase secara vertical)
b. faktor pendorong
- temperatur (daerah tropis basah)
- penutup lahan/vegetasi yang lebat
Batuan yang mengandung CaCO3 tinggi akan mudah larut. Semakin tinggi kandungan CaCO3, semakin berkembang bentuklahan karst. Kekompakan batuan menentukan kestabilan karst setelah mengalami pelarutan. Apabila batuan lunak, maka setiap kenampakan karst yang terbentuk seperti karen dan bukit akan cepat hilang karena proses pelarutanitu sendri maupun gerak massa batuan, sehingga kenampakn karst tidak berkembang baik. Ketebalan menentukan terbentuknya sirkulasi air secara vertical lebih. Tanpa adanya lapisan yang tebal sirkulasi air akan berlangsung secara lateral seperti pada air-air permukaan dan cekungan-cekungntuk. Rekahan tertutup tidak dapat terbentuk. Rekahan batuan merupakan jalan masuknya air membentuk drainase vertical dan berkembangnya sungai bawah tanah serta pelarutan yang terkonsentrasi.
Curah hujan merupakan media pelarut utama dalam proses karstifikasi. Semakin besar curah hujan, semakin besar media pelarut, sehingga tingkat pelarutan yang terjadi dibatuan karbonat juga semakin besar. Ketinggian batu gamping terekspos dipermukaan menentukan sirkulasi/drainase secara vertikal. Walaupun baugamping mempunyai lapisan tebal tetapi hanya terekspos beberapa meter diatas muka laut, karstifikasi tidak akan terjadi. Drainase vertikal akan terjadi jika jarak antara permukaan batuganping dengan muka air tanah atau batuan dasar dari batugamping semakin besar. Semakin tinggi permukaan batugamping terekspos, semakin besar jarak antara permukaan batugamping dengan muka air tanah dan semakin baik sirkulasi air secara vertikal, serta semakin intensif pula karstifikasi.
Temperatur mendorong proses karstifikasi terutama dalam aktivitas organisme. Daerah dengan temperature hangat seperti di daerah tropis merupakan daerah yang ideal bagi perkembangan organisme yang selanjutnya menghasilkan CO2 dalam tanah yang melimpah. Temperature juga menentukan evaporasi, semakin tinggi temperature semakin besar evaporasi yang pada akhirnya akan menyebabkan rekristalisasi ini akan membuat pengerasan permukaan (case hardening) sehingga bentuklahan karst yng telah terbentuk dapat dipertahankan dari proses denudasi yang lain (erosi dan gerak massa batuan). Kecepatan rekasi sebenarnya lebih besar di daerah temperature rendah karena konsentrasi CO2 lebih rendah pada temperatur rendah. Namun demikian tingkat pelarutan di daerah tropis lebih tinggi karena ketersediaan air hujan yang melimpah dan aktivitas organisme yang lebih besar.
Penutupan hutan juga merupakan factor pendorong perkembangan karst, karena hutan yang lebat akan mempunyai kandungan CO2 melimpah dalam tanah akibat hasil dari perimbakan sisa-sisa organik oleh mikroorganisme. Semakin besar konsentrasi CO2 dalam air semakin tinggi tingkat daya larut air terhadap batugamping. CO2 di atnosfer tidaklah bervariasi secara signifikan, sehingga variasi karstifikasi sangat ditentukan oleh CO2 dari pada aktivitas organisme.

C. KLASIFIKASI KARST
Klasifikassi karst secara umum telah dikategorikan menjadi tiga kelompok, antara lain :
1) Klasifikasi cvijic
a. Holokarst, merupakan karst dengan perkembangan sempurna, baik dari sudut pandang bentuklahannya maupun hidrologi bawah permukaannya. Terjadi bila perkembangan karst secara horizontal dan vertical tidak terbatas,batuan karbonat masif dan murni dengan kekar vertikal yang menerus dari permukaan hingga batuan dasarnya, serta tidak terdapat batuan impermeable yang berarti. Di Indonesia karst tipe ini jarang ditemukan karena besarnya curah hujan menyebabkan sebagian besar karst terkontrol oleh proses fluvial.
b. Merokarst, merupakan karst dengan perkembangan tidak sempurna atau parsial dengan hanya mempunyai sebagian cirri bentuklahan karst. Merokarst berkembang di batugamping yang relatif tipis dan tidak murni, serta khususnya nila batugamping diselingi oleh lapisan batuan napalan. Perkembangan secara vertical tidak sedalam perkembangan holokarst dengan evolusi relief yang cepat. Erosi lebih dominan dibandingkan pelarutan dan sungai permukaan berkembang. Merokarst pada umunya tertutup oleh tanah, tidak ditemukan dolin, goa, swllow hole berkembang hanya setempat-setempat. Sistem hidrologi tidak kompleks, alur sungai permukaan dan bawah permukaan dapat dengan mudah diidentifikasi. Drainase bawah tanah terhambat oleh lapisan impermeable. Contoh karst tipe ini yang terdapat di indonesia adalah karst disekitar Rengel Kabupaten Tuban.
c. Karst Transisi, berkembang di batuan karbunat relatif tebal yang memungkinkan perkembangan karst bawah tanah, akan tetapi batuan dasar yang impermeable tidak sedalam di holokarst, sehingga evolusi karst lebih cepat. Lembah fluvial lebih banya dijumpai dan polje hamper tidak ditemukan. Contoh karst transisi di Indonesia adalah Karst Gunung Sewu (Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan), Karst Karangbolong (Gombong), dan Karst Maros (Sulsel).

2) KLASIFIKASI GVOZDECKIJ (1965)
a. Bare karst, lebih kurang sama dengan karst Dinaric (holokarst)
b. Covered karst, merupakan karst yang terbentuk apabila batuan karbonat tertutup alluvium, material fluvio-glasial, atau batuan lain seperti batupasir.
c. Soddy karst / soil covered karst, merupakan karst yang berkembang di batu gamping yang tertutup oleh tanah atai terarossa yang berasal dari pelarutan batugamping.
d. Burried karst, merupakan karst yang telah tertutup oleh batuan lain, sehingga bukti karst hanya dapat dikenali melalui data bor.
e. Tropical karst of cone karst, merupakan karst yang terbentuk di daerah tropis.
f. Permaforst karst, merupakan karst yang terbentuk di daerah bersalju.

3) KLASIFIKASI SWEETING
a. True karst, merupakan karst dengan perkembangan sempurna. Karst yang sebenarnya harus meupakan karst dolin yang disebabkan oleh pelarutan karst secara vertical. Semua kast yang bukan tipe karst dolin dikatakan sebagai deviant. Contohnya adalah karst Dinaric
b. Fluvio karst, dibentuk oleh kombinasi proses fluvial dan proses pelarutan. Fluvio karst pada umumnya terjadi pada daerah batugamping yang dilalui oleh sungai alogenik (sungai berhilir di daerah non karst). Sebaran batu gamping baik secara vertical maupun lateral jauh lebih kecil dari pada true karst. Permukaan batugamping pada umumnya tertutup oleh tanah yang terbentuk oleh proses erosi dan sedimentasi proses fluvial. Singkapan batugamping ditemukan bila telah terjadi erosi yang terjadi karena penggundulan hutan. Lembah sungai permukaan dan ngarai banyak ditemukan. Bentukan hasil dari proses masuknya sungai permukaan ke bawah tanah dan keluarnya kembali sungai bawah ke permukaan merupakan fenomena yang banyak dijumpai (lembah buta dan lembah saku).
c. Glasiokarst, merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi yang didominasi oleh proses glasiasi dan pross glacial di daerah batugamping. Terdapat di daerah berbatugamping yang pernah ,mengalami proses glasiasi. Dicirikan oleh kenampakan hasil penggogosan, erosi, dan sedimentasi glacier. Hasil erosi glacier pada umumnya membentuk limstoe pavement. Erosi lebih intensif terjadi disekitar kekar menghasilkan cekungan dengan lereng terjal memisahkan pavement satu dengan yang lainnya. Dolin terbentuk terutama oleh hujan salju. Contohnya karst di lereng atas pegunungan alpen.
d. Nival karst, merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi oleh hujan salju pada lingkunagn glacial dan periglasial.
e. Tropical karst, merupakan karst yang terbentuk pada daerah tropis. Tropical karst secara umum dibedakan menjadi kegelkarst dan turmkarst.
Kegelkarst dicirikan oleh kumpulan bukit-bukit berbentuk kerucut yang sambung menyambung. Sela antar bukit kerucut membentuk cekungan dengan bentuk seperti bintang yang dikenal dengan cockpit. Cockpit sering membentuk pola kelurusan sebagai akibat control kekar atau sesar. Contoh di Indonesia adalah Karst Gunung sewu dan Karst Karanagbolong.
Turmkarst, dicirikan dengan bukit-bukit dengan lereng terjal, biasanya ditemukan dalam kelompok yang dipisahkan satu sama lain dengan sungai atau dataran alluvial. Beberapa ahli beranggapan bahwa turmkarst merupakan bentukan lebih lanjut dari kegelkarst karena kondisi hidrologi tertentu. Distribusi sebaran bukit dan menara pada umumnya dikontrol oleh kekar atau sesar dengan ukuran yag bervariasi. Kontak dari menara dengan dataran alluvium merupakan tempat pemunculan mata air dan perkembangan gua.
4) Tipe karst yang lain
a. Labyrint karst, karst yang dicirikan oleh koridor-koridor memanjang yang terkontrol oleh adanya kekar atau sesar. Morfologi karst tersusun oleh blok-blok batugamping yang dipisahkan satu sama lain oleh koridor karst. Terbentuk karena pelarutan yang jaul lebih intensif di jalur sesar dan patahan. Contoh di Indonesia adalah di Papua dan sebagian Gunungsewu.
b. Karst polygonal, merupakan penamaan yang didasarjan dari sudut pandang morfometri dolin. Dapat berupa kerucut karst maupun menara karst. Karst dikatakan poligonal apabila semua batuan karbonat telah berubah menjadi kumpulan dolin-dolin dan dolin telah bersambung dengan lainnya.
c. Karst fosil, merupakan karst yang terbentuk pada masa geologi lampau dan saat ini proses karstifikasinya sudah berhenti. Tipe ini dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, bentuklahan tinggalan (relict landform) yaitu karst yang dibentuk pada waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi batuan lainnya. Kedua, bentuklahan tergali (exhumed landform) yaitu karst yang dibentuk pada waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi batuan non karbonat yang selanjutnya muncul ke permukaan karena batuan ataonya telah tersingkap oleh proses denudasi.

Senin, 03 Mei 2010

Geomorfologi

GEOMORFOLOGI

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang roman permukaan dan bentang alam muka bumi, termasuk di dalamnya mempelajari tentang proses pembentukannya. Geomorfologi, dari bahasa Yunani dari kata Ge = bumi, morfe = bentuk dan logos = mempelajari. Geomorfologi erat kaitannya dengan struktur geologi, tipe batuan, dan iklim regional/lokal.

Proses Geomorfik

Proses geomorfik merupakan segala perubahan fisika dan kimia yang berakibat pada bervariasinya roman permukaan bumi.

1.Proses eksogenik; proses geomorfik yang disebabkan tenaga dari luar kulit bumi (air, angin, es).

- Gradasi; proses pembentukan bentang alam secara positif (sedimentasi).

- Degradasi; proses eksogenik secara negatif (pelapukan, erosi).

2.Proses endogenik; proses geomorfik yang diakibatkan oleh tenaga dari dalam bumi.

- Diastropisme; proses deformasi yang besar dari dalam bumi.

- Vulkanisme; proses keluarnya magma dari dalam bumi.

3.Proses ekstraterestrial; proses geomorfik dari angkasa luar.

TIPE BENTANG ALAM


Bentang alam (landform) permukaan bumi menurut Van Zuldam (1979), diklasifikasikan berdasarkan asal terbentuknya atau genesisnya dibagi menjadi :

1. Bentang alam alluvial
2. Bentang alam struktural
3. Bentang alam kars
4. Bentang alam eolian
5. Bentang alam laut dan pantai
6. Bentang alam vulkanik
7. Bentang alam glacial dan periglasial

1. Bentang Alam Alluvial

Bentang alam alluvial adalah bentang alam yang terbentuk dari proses yang berkaitan dengan air permukaan/aliran sungai (proses fluvial). Sungai itu sendiri dapat dibedakan berdasar keberadaan saluran yang tetap menjadi :

- Stream; aliran sungai belum memiliki saluran yang tetap (masih dapat berpindah).

- River; aliran sungai telah memiliki saluran yang permanen.

Sungai dapat diklasifikasikan kembali berdasarkan stadium erosinya menjadi :

- Sungai muda; bercirikan erosi vertical efektif, relative lurus dan mengalir di atas batuan induk, tidak terjadi sedimentasi, dan penampang berbentuk V.

- Sungai dewasa; bercirikan erosi lateral efektif dan relatif kecil, terdapatnya cabang-cabang sungai dan penampang berbentuk U.

- Sungai tua; bercirikan erosi lateral sangat efektif dengan aliran berliku-liku (meander), anak sungai relatif lebih banyak dibandingka dengan sungai dewasa.

Proses Fluvial

Proses fluvial adalah suatu proses baik kimia maupun fisika yang menyebabkan perubahan bentang alam/bentuk permukaan bumi karena pengaruh air permukaan. Proses fluvial dapat diklasifikasikan menjadi :

- Erosi; proses terkikisnya batuan (abrasi, korosi, coring, scouring)

- Transportasi; proses terangkutnya material-material hasil erosi.

- Sedimentasi; proses terendapnya material hasil erosi yang telah mengalami proses transportasi.

Proses transportasi dan sedimentasi sangat dipengaruhi oleh faktor kekentalan, kepekatan dan kecepatan aliran sungai.

2. Bentang Alam Eolian

Bentang alam eolian adalah bentang alam yang terbentuk sebagai pengaruh dari angin. Dalam hal ini, bentang alam eolian akan lebih terlihat di daerah gurun (gurun pasir) karena sedikitnya faktor penghalang dan ketiadaan faktor pengikat oleh material-material bebas.

Di daerah ini, proses pembentukan yang terjadi pada umumnya meliputi proses pengikisan oleh angin dan proses sedimentasi. Proses sedimentasi (pengendapan) oleh angin ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Dune; merupakan bukit yang terbentuk sebagai hasil dari timbunan pasir oleh hembusan angin. Dune akan sangat dipengaruhi oleh kuatnya hembusan dan kecepatan angin, bentuk dari permukaan dan adanya rintangan.

Dune memiliki berbagai macam tipe, yaitu :

- Star dune; dune dengan banyak punggung bukit pasir ridge yang bertemu pada satu titik.

- Transverse dune; dune yang terbentuk di sepanjang jejak angin.

- Barchan; bukit pasir lengkung bertanduk.

2. Loess; merupakan daerah yang luas yang tertutup oleh material-material halus.

3. Bentang Alam Vulkanik

Bentang alam vulkanik adalah bentang alam yang terbentuk sebagai akibat dari proses atau kegiatan vulkanisme/gunung berapi. Vulkanisme dibagi dalam menjadi tiga macam :

- Vulkanisme letusan; vulkanisme pada magma yang bersifat basa dan kental. Memiliki karakteristik letusan yang kuat dan umumnya menghasilkan material piroklastik serta membentuk gunung api terjal.

- Vulkanisme lelehan; vulkanisme pada magma asam dan bersifat encer, dimana vulkanisme ini memiliki letusan yang lemah. Vulkanisme jenis ini akan membentuk gunung api jenis perisai.

- Vulkanisme campuran; vulkanisme pada magma intermediate, umumnya membentuk gunung api strato.

Gunung api dapat dibedakan berdasarkan tipe erupsinya menjadi :

- Tipe Hawaii (perisai); tipe gunung ini memiliki tipe vulkanisme lelehan dengan bentuk kubah yang relatif landai, umumnya tedapat kaldera.

- Tipe Krakatau; memiliki tipe vulkanisme lelehan dan letusan.

- Tipe Pelee; memiliki tipe vulkanisme letusan dengan bentuk bentang gunung kerucut.

Berdasarkan penampakan morfologi, bentang alam gunung api diklasifikasikan menjadi :

- Depresi vulkanik; umumnya berupa bentang alam cekungan. Depresi vulkanik dapat berupa danau vulkanik, kawah, dan kaldera.

- Kubah vulkanik; bentang alam yang memiliki bentuk cembung ke atas, berupa Parasite cone, Cinder cone.

- Vulkanik semu; bentang alam yang mirip gunung api, bahkan dapat terbentuk karena proses vulkanisme yang berdekatan.

- Dataran vulkanik; dicirikan dengan puncak vulkanik yang datar dan memiliki perbedaan/variasi perbedaan ketinggian yang tidak terlalu mencolok. Dataran vulkanik berupa dataran rendah basal, plato basal, dan dataran plato basal.

Selasa, 23 Maret 2010

PENGENALAN UNSUR INTERPRETASI CITRA

Penginderaan jauh merupakan aktivitas penyadapan informasi tentang objek atau gejala di permukaan bumi (atau dekat permukaan bumi) tanpa melalui kontak langsung. Karena tanpa kontak langsung, diperlukan media supaya objek atau gejala tersebut dapat diamati dan `didekati` oleh si penafsir. Media ini berupa citra (image atau gambar). Citra merupaakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor lainnya. Citra dapat diperoleh melalui perekaman fotografis, yaitu pemotretan dengan kamera; dan dapat pula diperoleh melalui perekaman nonfotografis, misalnya dengan pemindai atau penyiam (scanner). Perekaman fotografis menghasilkan foto udara, sedangkan perekaman lain menghasilkan citra nonfoto. Citra foto udara selalu hardcopy (gambar tercetak) yang diproduksi dan direproduksi dari master rekaman yang berupa film. Citra nonfoto biasanya terekam secara digital dalam format asli dan memerlukan komputer untuk presentasinya. Citra nonfoto juga dapat (dan perlu) dicetak menjadi hardcopy untuk keperluan intepretasi secara visual.
Interpretasi citra merupakan kegiatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Untuk dapat melakukan interpretasi, penafsir memerlukan unsur-unsur pengenal pada objek atau gejala yang terekam pada citra. Unsur-unsur pengenal ini secara individual maupun kolektif dapat membimbing penafsir kea rah pengenalan yang benar. Unsur-unsur ini disebut unsur-unsur interpretasi, meliputi delapan hal, yaitu rona/warna, bentuk, ukuran, bayangan, tekstur, pola, situs dan asosiasi.
Rona (tone) mengacu ke kecerahan relatif objek pada citra. Rona biasanya dinyatakan dalam derajat keabuan (grey scale), misalnya hitam/sangat gelap, agak gelap, cerah, sangat cerah/putih. Apabila citra yang digunakan itu berwarna, unsur interpretasi yang digunakan ialah warna (color), meskipun penyebutannya masih terkombinasi dengan rona; misalnya merah, hijau biru, coklat kekuningan, biru kehijauan agak gelap, dan sebagainya.
Bentuk (shape) sebagai unsur interpretasi mengacu ke bentuk secara umum, konfigurasi, atau garis besar wujud objek secara individual. Bentuk beberpa objek kadang-kadang begitu berbeda dari yang lain, sehingga objek tersebut dapat dikenali semata-mata dari unsur bentuknya saja.
Ukuran (size) adalah atribut objek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi, dan volume. Ukuran objek pada foto harus dipertimbangkan dalam konteks skala yang ada. Penyebutan ukuran juga tidak selalu dapat dilakukan untuk semua jenis objek.
Pola (pattern) terkait dengan susunan keruangan objek. Pola biasanya terkait dengan adanya pengulangan bentuk umum suatu atau sekelompok objek dalam ruang. Istilah-istilah yang digunakan untuk menyatakan pola misalnya teratur, kurang teratur, tetapi kadang-kadang perlu digunakan istilah yang ekspresif, misalnya melingkar, memanjang terputus-putus, konsentris, dan sebagainya.
Bayangan (shadows) sangat penting bagi penafsir, karena dapat memberikan dua macam efek yang berlawanan. Pertama, bayangan mampu menegaskan bentuk objek pada citra, karena outline objek menjadi lebih tajam/jelas; begitu pula kesan ketinggiannya. Kedua, bayingan justrun kurang memberikan pantulan objek ke sensor, sehingga objek yang diamati menjadi tidak jelas.
Tekstur (texture) merupakan ukuran frekuensi perubahan rona pada gambar objek. Tekstur dapat digambarkan oleh agregasi/pengelompokan satuan kenampakan yang terlalu kecil untuk dapat dibedakan secara individual, misalnya dedaunan pada pohon dan bayangannya, gerombolan satwa liar di gurun, atau pun bebatuan yang terserak di atas permukaan tanah. Kesan tekstur juga bersifat relatif, tergantung pada skala dan resolusi citra yang digunakan. Suatu kenampakan tekstur kanopi (tajuk) pohon dengan kerapatan tinggi pada foto udara skala 1:1.000 akan terlihat kasar karena detil atau rincian kekasaran permukaan tajuk dari efek bayangannya sangat jelas terlihat. Akan tetapi, kenampakan yang sama pada foto udara sklaa 1:100.000 akan terlihat dengan tekstur yang lebih halus.
Situs (site) atau letak merupakan penjelasan tentang lokasi objek relatif terhadap objek atau kenampakan lain yang lebih mudah untuk dikenali dan dipandang dapat dijadikan dasar untuk identifikasi objek yang yang dikaji. Objek dengan rona cerah, berbentuk silinder, ada bayangannya dan tersusun dalam pola tertatur dikenali sebagai kilang minyak apabila terletak di perairan pantai.
Asosiasi (association) kmerupakan unsur yang memperhatikan keterkaitan antara suatu objek atau fenomena dengan objek atau fenomena lain, yang digunakn sebagai dasar untuk mengenali objek yang dikaji,. Misalnya pada foto udara skala besar dapat terlihat adanya bangunan berukuran lebih besar daripada rumah, mempunyai halaman terbuka, terletak di tepi jalan besar, dan terdapat kenampakan menyerupai tiang bendera (terlihat dengan adanya bayingan tiang) pada halaman tersebut. Bangunana ini dapat ditafsirkan sebagai bangunan kantor, berdasarkan asosiasi tiang bendera dengan kantor (terutama kantor pemerintah).
Perlu diperhatikan bahwa dalam mengenali objek, tidak semua unsur perlu digunakan secara bersama-sama. Ada beberapa jenis fenomena atau objek yang langsung dapat dikenali hanya berdasarkan satu jenis unsur interpretasi saja. Ada pula yang membutuhkan keseluruhan unsur tersebut. Ada kecenderungan bahwa pengenalan objek penutup/penggunaan lahan pada foto udara skala besar untuk wilayah kekotaan membutuhkan lebih banyak unsur interpretasi seperti pada deskripsi di atas, dibandingkan pengenalan bentuk/lahan atau fisiografi pad citra skala sedang-kecil dan pada liputan wilayah yang luas.